Category: Mata Anak

Anaknya tidak pernah mengeluh, padahal…

Waduh, dok. Sudah terlambat, ya? Habisnya, dia nggak pernah ngeluh.”

Betapa kagetnya orang tua begitu tahu bahwa anak kesayangannya ternyata mengalami kelainan refraksi dan harus memakai kacamata dengan power yang cukup besar. Padahal anaknya sendiri tidak pernah mengeluh buram.

Gangguan refraksi bisa terjadi pada siapa saja dan tidak mengenal usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Gangguan ini terjadi karena cahaya yang masuk ke dalam mata tidak dapat difokuskan tepat pada retina (saraf mata). Cahaya tersebut difokuskan di depan atau di belakang retina sehingga menimbulkan sensasi blur atau buram saat melihat suatu objek. Penglihatan buram seperti ini tentu akan menyulitkan kita untuk melihat, membaca, atau beraktifitas, bahkan menimbulkan keluhan tidak nyaman, mata lelah, atau sakit kepala. Kelainan refraksi diatasi dengan mengenakan kacamata agar kita dapat melihat dengan jelas.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak dengan kelainan refraksi cenderung tidak mengeluh. Perhatian anak-anak juga cenderung lebih fokus pada objek yang berada di dalam jangkauan tangannya. Benda yang berjarak lebih dari itu tidak menarik perhatiannya sehingga anak tidak menunjukkan gejala sukar melihat. Padahal definisi penglihatan normal itu adalah seseorang dapat melihat dengan jelas objek yang berjarak 6 meter dari matanya, objek yang tidak menarik perhatian anak.

Kelainan refraksi yang terlambat ditangani akan menyebabkan gejala mata malas atau disebut juga amblyopia. Tajam penglihatan pada mata yang mengalami amblyopia tidak dapat sebaik mata yang normal meskipun sudah diberikan kacamata dengan koreksi yang maksimal. Penglihatan yang terbatas ini akan menetap hingga anak menjadi dewasa. Sayang sekali, bukan?

Lalu orang tua mesti bagaimana, dong? Bagaimana cara mengetahui normal tidaknya penglihatan anak kita?

Penglihatan mata anak bisa kita periksa sejak usia dini, bahkan sejak masih balita sekalipun. Penilaian tajam penglihatan anak dilakukan secara subjektif dan objektif. Penilaian subjektif dilihat dari respon anak terhadap benda-benda yang diperagakan, berupa mainan, gambar, sinar lampu, atau huruf bila anak sudah bisa membaca. Penilain secara objektif dilakukan langsung oleh dokter, dengan menggunakan alat khusus, untuk mengetahui posisi jatuhnya bayangan di dalam mata terhadap retina serta berapa ukuran kacamata yang dibutuhkan agar bayangan tersebut jatuh tepat di retina.

Mata anak sebaiknya diperiksakan pada usia enam bulan, tiga tahun, saat sebelum anak masuk sekolah, selanjutnya setahun sekali selama anak sekolah. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di dokter mata atau melalui skrining penglihatan di sekolah. Skrining penglihatan di sekolah dilakukan oleh guru di UKS (unit kesehatan sekolah) agar dapat menapis anak-anak dengan gangguan penglihatan, untuk dirujuk ke dokter mata supaya mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sumber gambar: pexels.com